Siri Tasawuf Haji Oleh Pak Mustofa – siri 6


~ BERDOA KOK LUPA KEPADA TUHANNYA ~

 

Masjidil Haram adalah tempat yang sangat mustajab untuk berdoa. Sudah sangat banyak contoh kasusnya, terutama yang dialami oleh mereka yang pergi ke tanah suci. Tetapi, tentu saja doa yang terkabul itu adalah doa yang disampaikan dengan benar. Jika tidak, maka ibarat kita sedang berbicara melalui handphone kepada seseorang tapi lupa memencet nomer telpon lawan bicara. Tidak berjawab, karena tidak nyambung..!

 

Ritual haji adalah ibadah yang bertabur dzikir dan doa. Meskipun, basisnya adalah ibadah fisik sejak wuquf di Arafah, lempar jumrah di Mina, sampai tawaf dan sa’i di Mekah. Dzikir dan doa adalah dua aktivitas ibadah yang berkesinambungan. Doa akan menjadi mustajab jika didahului oleh dzikir yang mantap. Dan sebaliknya menjadi tidak mustajab, ketika dzikirnya tidak bermakna. Kenapa bisa demikian?

 

Ya, dzikir adalah upaya untuk menyambungkan hati dengan Allah. Apa pun bacaannya. Dzikrullah bermakna ‘mengingat’ Allah. Hatinya berinteraksi dengan Dzat Penguasa Jagat Raya, yang telah memproklamirkan diri-Nya sebegitu dekat dengan makhluk-Nya. Yang ‘jaraknya’ sudah lebih dekat daripada urat leher kita sendiri – yang kita tahu sudah tak berjarak itu. Karena urat leher memang sudah berada di dalam diri kita sendiri.

 

Meskipun sudah sedemikian dekatnya kita dengan Allah, tak jarang kita tidak merasakan kedekatan itu. Kenapa? Karena kita tidak mengingat-Nya. Tidak berdzikir kepada-Nya. Perhatian kita terdominasi oleh hal-hal yang bersifat semu dan inderawi. Al Qur’an menyebut kondisi itu sebagai ‘lalai’, tidak fokus, dan ‘kemana-mana’. Dzikir yang baik adalah yang bisa menyatukan keberagaman realitas di sekitar kita menjadi ‘kesadaran tunggal’ melebur ke dalam kesadaran terhadap Allah. Bukan cuma menyadari ‘bersama’ Allah. Melainkan berada di dalam-Nya. Yang oleh Al Qur’an dijelaskan sebagai: Allah telah meliputi segala sesuatu – benda maupun peristiwa, termasuk kita – wakanallahu bikulli syai’in mukhiitha.

 

Maka, doa orang-orang yang sedang melakukan ibadah haji menjadi sangat mustajab, dikarenakan hati yang selalu nyambung kepada-Nya itu. Namun toh demikian, banyak jamaah haji yang tak bisa mencapai kondisi tersebut. Banyak orang berdoa di tanah suci tanpa menyambungkan hati kepada-Nya. Kecuali sekedar memenuhi syariatnya saja. Inilah yang oleh Allah disebut sebagai doa yang lalai itu.

 

QS. Al Ahqaf (46): 5

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)-nya sampai hari kiamat, dan orang-orang yang LALAI terhadap doanya?

 

Orang yang lalai terhadap doanya itu ditempatkan dalam satu kalimat dengan orang-orang yang menyembah selain Allah. Artinya, jiwanya sama-sama tidak fokus kepada Allah yang mestinya menjadi satu-satunya Tuhan yang hadir di dalam kesadarannya dalam berdoa. Lantas, apakah yang bisa melalaikan kita dalam berdoa kepada Allah itu?

 

Dalam beribadah haji atau umrah, saya melihat diantaranya karena ketidakpahaman jamaah terhadap apa yang dilakukannya. Yang lebih dipentingkan adalah tatacara atau syariat belaka. Mereka kurang memahami substansi atau hakekat dari ritual yang sedang dijalani. Salah satu sebabnya, karena bimbingan haji sejak di tanah air memang kurang menyentuh masalah ini. Yang menjadi perhatian seringkali adalah tatacara yang bersifat fisikal. Seperti bagaimana cara mengenakan pakaian ihram, cara bertawaf, cara berwukuf, cara bersa’i, bertahalul, cara lempar jumrah, dan sebagainya.

 

Jarang sekali bimbingan haji yang memberikan sentuhan spiritual yang penuh makna dalam melakukan ritual-ritual itu. Bahwa, berbagai macam ritual itu sebenarnya adalah simbol-simbol belaka, yang harus dibarengi dengan pemaknaan yang mendalam secara spiritual. Karena jika tidak, jamaah haji akan terjebak kepada kedangkalan makna terhadap situs-situs yang kini semakin kehilangan atmosfer kesejarahannya.

 

Wuquf, tak lebih hanya akan menjadi kegiatan camping setengah hari, dimana jamaah tak memperoleh makna apa-apa di Padang Arafah yang sangat bersejarah. Lempar jumrah, tak lebih hanya akan menjadi kegiatan outbond massal yang tak jarang malah memupuk sifat-sifat setaniah. Demikian pula Tawaf dan Sa’i, hanya akan menjadi kegiatan longmarch yang tak membekaskan getaran jiwa dalam interaksi intens dengan-Nya. Kecuali, kita memahami maknanya. Dan mengisikan hakekat makna itu ke dalam seluruh ritual haji yang sedang kita jalani.

 

Maka tidak heran, banyak jamaah haji yang masih disibukkan dan dibingungkan oleh tatacara ritual daripada menyelami getaran spiritualitas yang berada di dalam jiwanya sendiri. Dalam hal berdoa, saya masih sangat banyak melihat orang-orang yang lebih disibukkan oleh buku doa yang dikalungkan di dadanya dibandingkan menikmati dan merasakan isi doanya.

 

Setiap mau melakukan ritual haji, entah wuquf, lempar jumrah, tawaf maupun sa’i dia sibuk membuka-buka bukunya untuk mencari doa yang sesuai. Dan ketika sudah ketemu doa yang dicarinya, tak jarang ia hanya membaca tanpa ada getaran jiwanya. Sekedar memenuhi syarat dan rukunnya. Sekedar memenuhi syariatnya.

 

Maka, tak jarang saya melihat orang-orang yang sedang berdoa itu lebih ingat buku panduannya daripada ingat Tuhannya. Atau lebih memperhatikan suara muthawif yang memandu doanya, ketimbang merasakan isinya. Ekspresi mereka datar, tanpa ada haru biru yang terpancar dari wajah dan pandangan matanya. Karena boleh jadi, benaknya hanya terisi oleh target-target untuk menyelesaikan ritual secara syariat. Ingat bacaan doanya, tetapi lupa kepada Tuhannya.

 

Sementara, di sisi yang lain saya melihat sejumlah jamaah berdoa sambil berurai air mata. Tenggelam dalam dzikir-dzikir yang panjang. Berbisik-bisik dengan Allah, Dzat yang sudah mendominasi seluruh kesadarannya. Dan kemudian mereka tersungkur dalam nikmatnya sujud yang panjang, sampai terguncang-guncang punggungnya oleh isak tangis yang membuncah dalam rasa syukur dan pertaubatannya yang dalam…

 

QS. Al Israa’ (17): 109-110

Dan mereka tersungkur bersujud sambil menangis, dan mereka bertambah khusyu’ (dalam ibadahnya). Katakanlah (kepadanya): “Bisikkanlah (nama) Allah atau Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu sebut, Dia mempunyai Asmaaul Husna. Dan janganlah kamu keraskan suaramu dalam sembahyangmu dan janganlah pula merendahkannya. Dan lakukanlah pertengahan di antara keduanya (dengan berbisik-bisik sepenuh jiwa).”

 

Wallahu a’lam bishshawab.

(Bersambung).

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s