memahami al fatihah 2


Memahami Al-qur’an : Interpretasi Al-Fatihah untuk Aplikasi

Abstract. Al-Qur’an is a Divine Guidance. It is a world where Muslims live. This unique Book was revealed to Muhammad to guide all human beings to follow the Right Way. The first surah of Al-Qur’an is Al-Fa>tihah. It is the essence of Al-Qur’an or Al-Qur’an in a nutshell. Thus who wants to study Al-Qur’an has to begin with understanding Al-Fatihah. Al-Fa>tihah contains guidances: that Muslims have to do all works in the name of Allah, the Most Gracious, Most Merciful; Sustainer of the worlds; Most Gracius, Most Merciful; Master of the Day of judgment. Him alone Muslims worship and to Him alone Muslims pray for help. To Him alone Muslims seek guidance to the straight way; the way of those on whom Allah has blessed.

I. Pendahuluan

Al-Qur’an adalah manifestasi Islam yang terpenting. Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur dalam rentang waktu 23 tahun. Sebagian berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi, baik bersifat individual maupun sosial. Berangsur-angsurnya pewahyuan itu mengandung maksud dan tujuan tertentu, yaitu untuk meneguhkan hati Nabi dan menjawab pertanyaan. Hal ini sebagaimana terdapat dalam Firman Allah Swt yang artinya: “Dan mereka yang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya tidak sekaligus?” Diwahyukan demikian supaya dengan itu Kami menguatkan hatimu, dan Kami membacakannya satu demi satu. Dan setiap mereka datang kepadamu dengan suatu pertanyaan, Kami memberikan kepadamu kebenaran dan penafsiran yang sebaik-baiknya (Q.S. al-Furqan [25] :32-33).

Nabi Muhammad bukan Rasul pertama dan Al-Qur’an bukan satu-satunya Kitab Suci yang diwahyukan Allah untuk umat manusia. Al-Qur’an didahului kitab Zabur kepada Nabi Daud, Taurat kepada Nabi Musa dan Injil kepada Nabi Isa.

Katakanlah, “Aku bukanlah orang baru di antara para rasul, dan aku tak tahu apa yang akan dilakukan terhadap diriku dan terhadap dirimu; aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku hanya pemberi peringatan yang jelas (QS al-Ahqaf [46]: 9).

Dan ingatlah, Isa anak Maryam berkata, “Hai Bani Israil! Aku adalah Utusan Allah kepadamu untuk membenarkan Taurat yang datang sebelum aku, dan menyampaikan berita gembira tentang kedatangan seorang rasul sesudah aku, bernama Ahmad.” Tetapi setelah ia datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang jelas, mereka berkata, “Ini adalah suatu sihir yang nyata!” (Q.S. al-S}aff [61]:6).

Kami menurunkan wahyu kepadamu seperti wahyu yang Kami turunkan kepada Nuh dan nabi-nabi yang sesudahnya: Kami menurunkan wahyu kepada Ibrahim, kepada Ismail, Ishaq, Yaqub dan anak cucunya, kepada Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman, dan kepada Daud Kami menurunkan Zabur (QS al-Nisa> ‘ [4]:163).

Al-Qur’an membenarkan dan mengokohkan syari’at Allah terdahulu. Sebagaimana dalam firman Allah Swt Yang artinya: Dialah yang menurunkan Kitab ini dengan sebenarnya kepadamu. Memperkuat yang telah datang sebelumnya dan Dialah Yang telah menurunkan Taurat dan Injil (Q.S. Ali Imran [3] : 3).

Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk dan penjelasan atas petunjuk itu sendiri serta sebagai pembeda antara yang hak dan batil; untuk mengingatkan manusia mengenai azab dan memberikan berita gembira kepada kaum beriman. Ini dapat dilihat dalam firman Allah Swt yang artinya: “Pada bulan Ramadhan itulah Al-Qur’an diturunkan, sebagai petunjuk bagi umat manusia, juga penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda … (Q.S. al-Baqarah [2]:185).

Segala puji bagi Allah, Yang telah menurunkan Kitab kepada hamba-Nya, dan tidak membuatnya berliku-liku. Lurus; untuk mengingatkan orang tak bertuhan mengenai azab yang berat dari pihak-Nya, dan memberikan berita gembira kepada kaum beriman yang mengerjakan segala perbuatan baik, supaya mendapat balasan yang baik (Q.S. al-Kahfi [18]:1-3).

Nilai penting Al-Qur’an dalam kehidupan Muslim tergambar dalam sebuah wasiat Nabi SAW, “Aku tinggalkan untukmu dua hal; kamu sekalian tak akan pernah tersesat selamanya, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan sunnahku.” (HR Imam Malik )

Basyar bin al-Syura berkata, “Ayat Al-Qur’an itu seperti buah kurma; setiap kali kamu mengunyahnya, maka rasa manisnya akan terasa.” Senada dengan hal itu Sayyid Qutb menulis, “Hidup di bawah naungan Al-Qur’an adalah nikmat yang hanya diketahui oleh siapa yang telah merasakannya. Nikmat yang mengangkat, memberkahi dan menyucikan umur.”

Muhammad Iqbal pernah menulis dalam suutu puisi:

Tak seorang pun tahu rahasia

Hingga seorang mukmin

Ia nampak sebagai seorang pembaca

Namun Kitab itu ialah dirinya sendiri.

Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang niscaya memperoleh perhatian khusus dari setiap Muslim ialah surat Al-Fa>tihah. Ia niscaya dipahami dan diamalkan dalam kehidupan, sebelum memahami dan mengamalkan bagian-bagian Al-Qur’an lainnya lebih lanjut sepanjang hayat, karena sesungguhnya Al-Qur’an merupakan penjelasan secara terperinci (tafs}I>l) tentang apa yang tertulis dalam Al-Fa>tihah secara golbal (ijma>l).

Diriwayatkan bahwa Ubai bin Ka’ab membaca Al-Fatihah di hadapan Nabi SAW, maka Rasulullah SAW bersabda, “Maukah kau kuberi tahu tentang surat yang tidak pernah disamai oleh surat-surat yang turun dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an?” Jawab Ubai, “Mau, ya Rasulullah.” Rasulullah SAW bersabda, “Surat itu adalah pembukaan Al-Qur’an (Al-Fatihah), yaitu tujuh [ayat] yang diulang-ulang dan Al-Qur’an yang telah diturunkan kepadaku.” (HR Ahmad). Allah dan Rasul-Nya mengistimewakan Al-Fatihah untuk dibaca pada setiap raka’at dalam shalat. Nabi SAW bersabda, “Shalat siapa pun tidak sah tanpa membaca A-Fatihah.” (HR Jama’ah).

II. Kerangka Pemahaman

“Al-Qur’a>nu ima>muna wa qudwatuna” (Al-Qur’an adalah pemimpin kita dan teladan kita). Al-Qur’an sumber pengetahuan dan tindakan. Ia lebih mementingkan amal daripada gagasan. Al-Qur’an berisi petunjuk bagi manusia agar ia mampu memenuhi janjinya kepada Tuhan dan menunaikan amanat-Nya sebagai khalifah di bumi. Al-Qur’an membawa manusia ke dalam alam keabadian dengan cara yang sangat halus. Karena sifat kandungan dan bahasanya sehingga ‘ikan-ikan’ di dalam jiwa manusia dapat berenang tanpa rasa was-was dengan gerak mereka sendiri ke dalam jala Tuhan untuk kebahagiannya sendiri.

Al-Qur’an diturunkan untuk petani sederhana maupun ahli metafisika. Ia mengandung berbagai tingkat pengertian bagi semua jenis pembacanya. Manusia melihat dirinya sendiri di dalam Al-Qur’an dan pengetahuan yang dapat dipetiknya dari Al-Qur’an tergantung sepenuhnya kepada kenyataan tentang siapa dirinya. Jalaluddin Rumi, seperti dikutip Seyyed Hossein Nasr, menulis:

Al-Qur’an adalah pengantin wanita yang memakai cadar dan menyembunyikan wajahnya darimu. Bila engkau membuka cadarnya dan tidak mendapatkan kebahagiaan, itu disebabkan caramu membuka cadar telah menipu dirimu sendiri, sehingga tampak olehmu ia berwajah buruk. Ia mampu menunjukkan wajahnya dalam cara apa pun yang disukainya. Apabila engkau melakukan apa-apa yang disukainya dan mencari kebaikan darinya, maka ia akan menunjukkan wajahnya yang sebenarnya, tanpa perlu kaubuka cadarnya.

Al-Fatihah adalah induk surat-surat sesudahnya sehingga dinamakan Umm al-Kitab atau Umm al-Qur’an. Ia juga dinamakan al-sab’u min al-matsani (tujuh yang diulang-ulang); al-wajibah fi al–shalawat (yang wajib dalam shalat); al-syafiyah (penyembuh); al-kafiyah (yang mencukupi).

Al-Fatihah menghimpun tujuan-tujuan Al-Qur’an. M. Dawam Rahardjo mengemukakan hipotesis: (1) Tujuh ayat dalam Al-Fatihah itu dijelaskan secara berulang-ulang dalam seluruh isi Al-Qur’an; karena itu (2) Al-Qur’an sebenarnya berintikan atau intisarinya tercakup dalam Al-Fatihah, atau sebaliknya dapat dikatakan, bahwa (3) Isi Al-Qur’an itu seluruhnya menjelaskan tujuh ayat dalam al-Fatihah, sehingga (4) Tujuh ayat dalam Al-Fatihah itu membagi habis kandungan Al-Qur’an; atau seluruh kandungan Al-Qur’an dapat dibagi habis oleh tujuh ayat Al-Fatihah, dan karena itu (5) Al-Fatihah disebut Al-Qur’an yang agung, karena Al-Fatihah adalah Al-Qur’an in a nutshell – Al-Qur’an dalam esensi.

Al-Fatihah adalah doa permohonan yang diajarkan Allah kepada hamba-Nya yang hendak mempelajari Kitab-Nya Al-Qur’an. Surat ini diletakkan di permulaan sekali Al-Qur’an untuk mengajarkan kepada pembaca: jika Anda tulus hati hendak mengambil manfaat dari Al-Qur’an, hendaknya Anda memanjatkan doa ini kepada Tuhan Alam Semesta. Al-Fatihah adalah permohonan hamba dan Al-Qur’an adalah jawaban Tuhan kepada permohonan itu. Hamba memohon petunjuk kepada Tuhan, dan Tuhan meletakkan seluruh Al-Qur’an di hadapannya, sebagai jawaban-Nya, seakan Ia berkata, “Inilah petunjuk yang kaumohonkan kepada-Ku.”

C. Teks Al-Fatihah

Al-Fatihah adalah surat pertama dalam Al-Qur’an berdasarkan susunannya dalam mushhaf, bukan berdasarkan urutan turun, diturunkan di Makkah pada urutan kelima dari rangkaian seluruh surat dalam Al-Qur’an. dan terdiri dari tujuh ayat. Firman Allah :”Dan telah Kami berikan kepadamu tujuh ayat yang diulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung (Q.S. al-Hijr [15]: 87).

Surat ini mengandung makna-makna Al-Qur’an dan mencakup tujuan pokoknya secara garis besar. Ia meliputi pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya: akidah, ibadah, syari’ah; keimanan kepada hari akhir, keimanan pada sifat-sifat Allah yang terbaik, pengkhususan ibadah, permohonan dan doa kepada Allah; menghadapkan diri kepada-Nya untuk memohon petunjuk kepada agama yang benar, untuk menempuh jalan lurus yang dilalui orang-orang saleh terdahulu dan menghindari jalan yang ditempuh orang-orang yang dimurkai Allah dan tersesat.

Tujuh ayat dalam Al-Fatihah, sebagaimana tertera dalam mushhaf Usmani adalah sebagai berikut:

بِاِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ(1)الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ(2)الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ(3)مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ(4)إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ(5)اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ(6)صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ(7)

Artinya:

(1) Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Pengasih. (2) Segala puji bagi Allah, Maha Pemelihara semesta alam. (3) Maha Pemurah, Maha Pengasih. (4) Penguasa Hari Perhitungan. (5) Engkau Yang kami sembah, dan kepada-Mu kami memohonkan pertolongan. (6) Tunjukilah kami jalan yang lurus. (7) Jalan mereka yang telah Kauberi segala kenikmatan, bukan jalan mereka yang mendapat murka dan bukan mereka yang sesat jalan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman, “Aku membagi Al-Fatihah antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Seperdua untuk-Ku dan seperdua lagi untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang diminta. Apabila hamba mengucapkan: Alh}amdu lilla>hi rabbil’a>lami>n, maka Allah menjawab, “Hamba-Ku memuji-Ku.” Apabila hamba mengucap: ar-rahma>nir-rahi>m, maka Allah menjawab, “Hamba-Ku menyanjung-Ku.” Apabila hamba berkata: ma>liki yaumiddi>n, maka Allah menjawab, “Hamba-Ku memuliakan-Ku.” Apabila hamba itu berkata: iyya>ka na’budu wa’iyya>ka nasta’I>n, Allah menjawab, “Ini seperdua untuk-Ku dan seperdua lainnya untuk hamba-Ku; dan bagi hamba-Ku apa pun yang ia minta.” Apabila hamba mengucap: Ihdinas}-s}ira>tal-mustaqi>m, s}ira>tallazi>na an’amta ‘alaihim gairil-magd}u>bi ‘alaihim walad}-d}alli>n, maka Allah menjawab, “Ini semua untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” (H.R Muslim).

Hadis di atas membukakan rahasia mengapa Al-Fatihah dibaca berulang-ulang dalam shalat lima waktu dan dalam shalat-shalat lainnya. Seperdua bagian pertama Al-Fatihah menjelaskan hakikat dasar alam wujud yang menjadi pokok asal kebahagiaan mutlak, sebagai manifestasi rububiyah Allah terhadap semesta alam serta rahmat dan kekuasaan-Nya pada hari akhirat. Apabila hakikat ini dapat dicapai seseorang, maka akan sempurnalah kekuatan ilmu dan makrifat dalam dirinya. Adapun seperdua bagian lainnya mengungkapkan dasar sistem amaliyah dalam hidup, baik yang menyangkut unsur ibadah, maupun mu’amalah.

Surat Al-Fatihah mencakup segala sesuatu untuk kesempurnaan manusia dan kebahagiaannya di dunia dan akhirat. Kesempurnaan tercapai karena kekuatan menyelidiki dan kekuatan berusaha. Dengan kekuatan pertama manusia dapat mencapai kebenaran dan mengimaninya serta menghayati dirinya dengan kebenaran itu; dengan kekuatan kedua ia menempuh jalan kebaikan dan kebahagiaan serta jalan hidayah Ilahi. Al-Fatihah laksana himpunan sinar yang menerangi segala sesuatu dalam kehidupan dengan cahayanya.

D. Interpretasi

Bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m

Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Pengasih

Mengucap bismilla>hirrahma>nirrahi>m adalah manifestasi pembaca dalam usaha melepaskan diri dari perbuatan buruk, dan mendorong untuk berbuat baik, sekaligus pernyataan bahwa perbuatan baik itu ditujukan kepada Allah dan atas perintah-Nya serta dengan takdir-Nya. “Aku mengerjakan ini dan itu demi Allah. Kalau bukan karena Allah aku tidak akan melakukannya.” Basmalah memperkuat jiwa untuk mengerjakan kebaikan dan menjauhkan dari kejahatan.

“Dari Sulaiman, dan sebagai berikut: ‘Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Pengasih: Janganlah kamu berlaku sombong kepadaku, tapi datanglah kepadaku berserah diri kepada agama yang benar.’ (Q.S. al-Naml [27]:30-31).

Dan ia berkata, “Naiklah kamu ke dalamnya dengan nama Allah dalam berlayar dan dalam berlabuh! Sungguh, Tuhanku Maha Pengampun, Maha Pengasih (Q.S. Hu>d [11] :41). Rasulullah SAW juga bersabda, “Tiap-tiap pekerjaan yang penting, kalau tidak dimulai dengan bismillah maka pekerjaan itu akan percuma jadinya.” (HR Abu Daud).

Alh}amdulilla>hi rabbil’a>lami>n

Segala puji bagi Allah, Maha Pemelihara Semesta alam

Allah SWT adalah rabb alam semesta, yakni yang memelihara dengan nikmat-nikmat-Nya. Nikmat yang besar adalah wahyu, diutusnya para Rasul dan diturunkannya petunjuk, ilmu dan hikmah. Nikmat-nikmat lainnya adalah anugerah apa saja yang terus menerus dilimpahkan Allah kepada manusia tanpa terputus sedetik pun. Dia senantiasa mengurus makhluk-Nya dengan ilmu, hikmah dan kekuasaan-Nya setiap saat. Dia menundukkan semua yang ada di langit dan di bumi untuk manusia agar ia tumbuh dan berkembang serta meningkat derajatnya pada posisi yang sempurna dan mulia. Allah tidak membiarkan hamba-hamba-Nya hidup sia-sia. Dia memperkenalkan kepada manusia apa yang bermanfaat buat mereka dalam kehidupan dunia dan akhirat serta memperkenalkan pula apa yang membahayakan mereka.

Segala puji bagi Allah, Yang menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan cahaya. Sungguhpun begitu, orang yang ingkar menyamakan Tuhan dengan yang lain (Q.S/ al-An’am [6]:1).

Segala puji bagi Allah , Yang telah menurunkan Kitab kepada hamba-Nya, dan tidak membuatnya berliku-liku (Q.S. al-Kahfi [18]: 1).

Segala puji bagi Allah, Yang memiliki segala yang di langit dan di bumi; bagi-Nya segala puji di akhirat. Dia-lah Maha Bijaksana, Maha Tahu (Q.S. Saba` [34] :1).

Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi [dari yang tiada], Yang menjadikan para malaikat sebagai utusan yang bersayap,- dua, tiga, atau empat [pasang]; Ia menambahkan dalam ciptaan-Nya segala yang Ia kehendaki; karena Allah Maha Kuasa atas segalanya (Q.S. Fathir [35] :1).

“Sebab bagiku mereka adalah musuh; lain halnya Tuhan semesta alam. Yang menciptakan aku, dan Dialah Yang membimbingku; Yang memberi aku makan dan minum, dan bila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku; Yang akan membuatku mati, dan kemudian menghidupkan aku kembali. Dan kuharap mengampuni dosa-dosaku pada Hari Perhitungan.” (Q.S. al–Syu’ara’ [26] : 77-82).

Dengan menyadari kemahakuasaan Allah dan keagungan-Nya, manusia akan menghindari sikap congkak, sombong, takabur dan tinggi hati.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sezarah kesombongan.” Seseorang bertanya, “Bagaimana dengan orang yang berpakaian bagus dan bersandal bagus?” Nabi SAW menjawab, “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sombong ialah menolak kebenaran dan menghina orang.” (HR Muslim).

Mensyukuri nikmat Allah itu dilakukan dengan memelihara dan memanfaatkan karunia-Nya dengan sebaik-baiknya untuk beramal saleh demi meraih ridha-Nya. Nikmat dan anugerah adalah ujian iman. Akankah kita bersyukur atau justru menjadi ingkar kepada-Nya?

Maka ia (Sulaiman) pun tersenyum dan tertawa karena perkataan semut, dan ia berkata, “Tuhanku, berilah aku peluang untuk bersyukur atas nikmat-Mu yang Kau-limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan supaya aku dapat mengerjakan perbuatan yang baik yang Kau-ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam hamba-hamba-Mu yang saleh.” (Q.S. al-Naml [27] :19).

Kami amanatkan kepada manusia berlaku baik terhadap kedua orangtuanya; ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah; masa hamil dan penyapihannya tiga puluh bulan, sehingga bila sudah mencapai dewasa, dan mencapai empat puluh tahun, ia berkata, “Tuhanku, berilah aku peluang untuk bersyukur atas nikmat-Mu yang Kau-limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan supaya aku dapat mengerjakan perbuatan yang baik yang Kau-ridhai; berilah aku kebaikan bagi anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu, dan sungguh aku tunduk kepada-Mu dalam Islam.” (Q.S. al-Ah}qa>f [46]:15).

Arrah}ma>nirrah}I>m

Maha Pemurah, Maha Pengasih

Allah itu al-Rah}ma>n (Yang Maha Pemurah), ar-Rah}I>m (Yang Maha Pengasih). Manusia mengetahui bahwa Allah Yang Maha Pencipta tidak membiarkan hamba-hamba-Nya hidup menderita. Dia memberitahukan apa yang bermanfaat untuk mendapatkan puncak kesempurnaan diri. Dia mengutus Rasul-rasul-Nya dan menurunkan Kitab Suci yang menghidupkan hati dan ruh dalam jasad. Allah Maha Pemurah, pelimpah karunia kepada makhluk-Nya; Maha Pengasih, selalu melimpahkan rahmat kepada hamba-Nya. Perhatikan firman Allah berikut ini:

Allah Maha Pemurah, Yang tegak kukuh di atas singgasana kekuasaan (Q.S. Taha [20]: 5). Maha Pemurah Allah! Yang mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia; Dia mengajarkan kepadanya berbicara (Q.S. Al-Rahman [55] :1-4).

… Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu, sebab Allah sungguh Maha Lemah-lembut, Maha Pengasih kepada manusia (Q.S. al-Baqarah [2]:143).

Dialah Yang memberikan rahmat kepada kamu, juga para malaikat-Nya, untuk mengeluarkan kamu dari gelap kepada cahaya. Sungguh Ia penuh kasih kepada orang-orang beriman (Q.S. Al-Ah}zab [33] :43).

Ya Allah, Ya Kari>m…

Ya Rah}ma>n, Ya Rahi >m …

Wahai Dzat Yang Maha Agung, Engkaulah yang berhak disembah sebenar-benarnya, Yang Maha Mulia dan Pemberi; limpahkanlah kemurahan-Mu pada kami.

Wahai Dzat Yang Maha Pemurah, pelimpah karunia kepada makhluk-Nya; limpahkanlah karunia-Mu pada kami.

Wahai Dzat Yang Maha Pengasih, pelimpah rahmat dan kasih sayang; limpahkanlah rahmat dan kasih-Mu pada kami.

Orang beriman niscaya menyerap sifat-sifat kepemurahan dan kepengasihan Allah untuk menghiasi dirinya dan menebarnya dalam kehidupan bersama.

Ma>liki yaumiddi>n

Penguasa Hari Perhitungan

Hari akhir itu mutlak. Kehancuran total meliputi seluruh isi alam. Segala yang ada mempunyai ujung atau batas waktunya, sebagaimana perputaran masa; dari zaman purbakala hingga masa penghabisan, saat kerusakan dan kehancuran. Bagaimana gelanggang hidup ini akan selesai begitu saja, padahal di dunia ini ada penipu, penjahat, penguasa yang sewenang-wenang yang belum menerima balasan, karena dapat bersembunyi atau menutupi kesalahannya. Di sisi lain, banyak orang berbuat baik, berjuang dan berkorban menegakkan kebenaran, tetapi belum menerima imbalan selayaknya. Akal sehat manusia mempercayai adanya hari pengadilan di mana orang yang telah berbuat baik di dunia memperoleh balasan baik, sedangkan orang yang berbuat buruk menerima balasan keburukannya.

Allah Pemilik hari pembalasan. Pada hari itu Allah membalas amal hamba-hamba-Nya. Mereka mendapat pahala atas kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan dan menghadapi siksa atas kejelekan dan kemaksiatan yang mereka kerjakan. Allah sekali-kali tidak mengazab seseorang kecuali setelah Dia mengemukakan peringatan-peringatan melalui Rasul-rasul-Nya.

Setiap orang, nasibnya sudah Kami kalungkan di lehernya; Pada hari kiamat akan Kami keluarkan baginya sebuah gulungan yang akan dilihatnya sudah terbentang. “Bacalah catatanmu; dan cukuplah sudah engkau sendiri hari ini membuat perhitungan atas dirimu.” Barang siapa menerima petunjuk, maka itu untuk keuntungannya sendiri, dan barang siapa sesat, maka itu untuk kerugiannya sendiri. Dan tiadalah orang yang memikul beban akan memikul beban orang lain; dan Kami tidak menjatuhkan azab sebelum Kami mengutus seorang rasul [untuk memberi peringatan] (Q.S. al-Isra>’ [17]:13-15). Dan mereka berkata, “Wahai, celakalah kita! Kiranya inilah hari pembalasan!” (QS As}-S}a>ffa>t/37:20). Mereka bertanya, “Bilakah hari pengadilan dan keadilan itu?” Suatu hari tatkala mereka diuji di atas api (Q.S. al-Z|ariya>t/ [51] :12-13).

Keyakinan akan adanya hari akhir mendorong mukmin memilih perbuatan-perbuatan baik ketimbang perbuatan buruk yang tak ada nilai bobot positifnya sama sekali di hadirat Allah SWT, bahkan hanya akan mengurangi berat timbangan amal baik di hari perhitungan, yang mengantarkan seseorang ke lembah Hawiyah (Q.S. al-Qari’ah [101]: 8-11).

Iyya>ka na’budu wa ‘iyya>ka nasta’I>n

Engkau Yang kami sembah, dan kepada-Mu kami memohonkan pertolongan

Allah Tuhan yang berhak diibadahi. Beribadah kepada Allah dan memohon pertolongan merupakan panggilan fitrah dan sejalan dengan pertimbangan akal sehat. Ibadah menumbuhkan perasaan cinta dan hina di hadapan Kekuasaan yang tak terbatas, yang tidak terjangkau Dzat-Nya dan tidak terhingga nikmat-Nya. Tapi tidak ada jalan untuk mengetahui cara beribadah dan bermohon kecuali dengan penjelasan Rasul-Nya. Karena itu barang siapa mengingkari Rasul berarti mengingkari Allah yang mengutusnya.

Aku menciptakan jin dan manusia hanya supaya beribadah kepada-Ku (Q.S. al-Z}a>iyat [51]: 56).

Maka bacakanlah puji-pujian kepada Tuhanmu, dan bersama-samalah dengan mereka yang sujud. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu saat yang sudah pasti (Q.S. al-Hijr [15] :98-99).

Bermohonlah kamu [kepada Allah] pertolongan dengan ketabahan dan dengan shalat; ini sungguh berat, kecuali bagi mereka yang khusyuk (Q.S. al-Baqarah [2] :45).

Wahai orang beriman! Mohonlah pertolongan dengan tabah dan shalat; Allah bersama orang yang tabah (Q.S. al-Baqarah [2]:153).

Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan sabarlah. Bumi ini milik Allah; akan diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki, dan kesudahannya yang terbaik bagi yang bertakwa.” (QS Al-A’raf/7:128).

Katakanlah, “Tuhanku, berilah keputusan yang benar!” “Tuhan kami Maha Penyayang, tempat memohonkan segala pertolongan atas semua yang kamu lukiskan!” (QS Al-Anbiya> ‘21:112).

Nabi SAW bersabda, “Wahai Mu’adz, demi Allah aku mencintaimu; janganlah lupa pada tiap-tiap selesai shalat mengucapkan: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wahusni ‘ibadatika – Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan baik” (HR Ahmad dan Abu Daud).

Ibnu Taimiyyah membagi manusia dalam ibadah dan isti’anah kepada Allah menjadi empat golongan. Pertama, ahli ibadah dan ahli isti’anah kepada Allah. Ibadah merupakan tujuan hidup. Mereka memohon pertolongan hanya kepada Allah agar dapat beribadah sebaik-baiknya dan mendapatkan ridha-Nya. Doa yang paling bermanfaat ialah memohon pertolongan untuk mendapatkan keridhaan-Nya dan sebaik-baik pemberian Allah ialah dikabulkannya permohonan itu. Ibnu Taimiyyah berkata, “Aku pernah memikirkan doa yang paling bermanfaat. Ternyata doa itu adalah permohonan pertolongan untuk mendapatkan keridhaan-Nya; aku lihat doa itu terdapat di dalam surat Al-Fatihah: Iyya>ka na’budu wa’ yya>ka nasta’I>n.”

Golongan kedua, kebalikan golongan pertama, yaitu orang yang tidak mau beribadah dan beristi’anah kepada Allah. Mereka tidak ber-ibadah dan tidak pula ber-isti’anah kepada Allah. Jikalau mereka memohon pertolongan kepada Allah, permohonan itu untuk keberuntungan dan kesenangannya sendiri, bukan untuk mencari keridhaan atau memenuhi hak-hak-Nya. Pengabulan permintaan seseorang bukan karena kemuliaan peminta, bahkan kadang-kadang Allah mengabulkan permohonan untuk membinasakan. Sebaliknya, kadangkala Allah tidak mengabulkan doa untuk memuliakannya. Pemberian Allah belum tentu tanda Ia memuliakannya dan jika Allah menahan pemberian, bukan pertanda Ia menghinakannya. Semua itu ujian dari Allah SWT.

Adapun manusia, bila Tuhan telah mengujinya, memberi kehormatan dan kenikmatan kepadanya, lalu katanya [sombong], “Tuhan memberi kehormatan kepadaku.” Tetapi bila Dia mengujinya, membatasi rezekinya, lalu katanya [putus asa], “Tuhanku telah menghinaku!”. Tidak sekali-kali! Tetapi kamu tidak menghormati anak-anak yatim dan tidak mendorong orang lain memberi makan orang miskin! Dan kamu melahap harta warisan dengan sangat serakah dan sangat mencintai harta secara berlebihan! (Q 89:15-20).

Golongan ketiga, orang-orang yang beribadah tanpa isti’anah kepada Allah SWT. Mereka melakukan aneka macam ibadah dan wirid kepada Allah tetapi minus tawakal dan isti’anah. Tawakal dan isti’anah ialah keadaan hati yang terbentuk karena makrifat kepada Allah dan iman terhadap kemahaesaan-Nya dalam mencipta, mengatur, memberi manfaat dan mudarat; yakin bahwa apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. Iman membuat orang bersandar kepada Allah dan menyerahkan urusannya kepada-Nya; merasa tenang dan mantap hatinya karena yakin terhadap kekuasaan Allah untuk mengurusi apa pun yang ia serahkan kepada-Nya. Siapa hatinya pasrah kepada Allah demikian, maka Allah pasti mencukupinya.

… barang siapa bertakwa kepada Allah, Ia membukakan jalan ke luar baginya dan Ia membukakan rezeki baginya dari [sumber] yang tak diduga-duga. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah maka cukuplah Dia baginya. Pasti Allah menyelesaikan tujuan-Nya. Sungguh Allah telah mengatur segala sesuatu menurut ukuran (Q 65:2-3).

Golongan keempat, orang yang menyaksikan kemahaesaan Allah dalam memberi manfaat dan mudarat; apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tak terjadi, tetapi ia tidak menghiraukan apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah SWT. Ia memohon pertolongan kepada Allah untuk memperoleh harta, kekuasaan dan kedudukan di mata manusia semata. Mereka akan memperoleh apa saja di dunia, tetapi tidak mendapat bagian sedikit pun di akhirat.

… Ada di antara orang-orang itu yang berkata, “Tuhan, berilah kami [dari karunia-Mu] di dunia ini.” Tetapi di akhirat ia tidak mendapat bagian (Q 2:200); Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan daya tariknya, Kami berikan balasan atas pekerjaan mereka dan mereka tidak akan dirugikan karenanya. Mereka itulah yang di akhirat hanya akan mendapat api dan segala yang dikerjakan di dunia tiada berguna dan sia-sialah segala perbuatannya (Q 11:15-16).

Nabi SAW mendengar seseorang berdoa dengan mengucapkan, “Allahumma inni as`aluka … Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah yang tak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Engkau; Yang Maha Esa, Tempat Bergantung; Yang Tiada beranak dan tiada diperanakkan, dan tiada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” Beliau bersabda, “Demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya, sesungguhnya orang itu meminta kepada Allah dengan menyebut nama-Nya yang teragung, yang apabila seseorang berdoa dengan menyebut nama itu niscaya dikabulkan doanya; jika meminta dengan menyebut nama itu maka akan diberi apa yang diminta.” (HR Tirmidzi).

Ketika menunaikan shalat malam Nabi SAW berdoa: Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Engkau penerang langit dan bumi dan orang-orang yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji; Engkau yang mengatur langit dan bumi dan orang-orang yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau adalah Maha Benar; janji-Mu adalah benar; perkataan-Mu adalah benar; bertemu dengan-Mu adalah benar; surga adalah benar; neraka adalah benar; para nabi adalah benar; kiamat adalah benar; Muhammad adalah benar. Ya Allah kepada-Mu aku menyerah, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal; kepada-Mu aku bertobat; kepada-Mu aku mengadu; kepada-Mu aku meminta hukum. Maka ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang; yang kurahasiakan dan yang kulakukan dengan terang-terangan. Engkau adalah Tuhanku; tiada tuhan melainkan Engkau” (HR Bukhari).

Nabi SAW bersabda, “Tak seorang mukmin pun yang memohon kepada Allah suatu permohonan, yang tidak mengandung dosa dan tidak pula memutuskan tali silaturahmi, kecuali Allah akan memberikan dengan permohonan itu salah satu dari tiga hal berikut: Pertama, Allah akan segera mengabulkan permintaannya; kedua, Allah menyediakan balasan baik sepadan dengan catatan kebaikan yang telah pernah ditempuh; ketiga, Allah akan mengampuni dosa-dosa sepadan dengan kebaikan yang dimohonkan.” (HR Tirmidzi).

Ihdinas}s}ira>t}al-Mustaqi>m

Tunjukilah kami jalan yang lurus

Petunjuk Allah berupa agama disampaikan kepada manusia melalui Rasul-Nya. Setelah itu Allah memberikan taufik dan ilham kepada umat manusia, yakni penerimaan hati terhadap petunjuk itu; penanaman iman dalam kalbu, cinta terhadap iman dan benci kepada kekafiran; ridha terhadap keimanan dan gemar kepadanya.

Menurut Muhammad Abduh, petunjuk Allah kepada manusia itu empat macam. (1) Hidayah wijda>n (naluri, pembawaan); terdapat pada manusia sejak dilahirkan. Ketika anak-anak merasa membutuhkan makanan dan minuman ia menangis. Hal ini tampak pula pada kecenderungan bayi untuk menyusu ibu. (2) Hidayah indera; terdapat pada manusia sejak lahir, walaupun belum berfungsi secara optimal. Fungsi indera itu berkembang berangsur-angsur. (3) Hidayah akal; melengkapi kedua jenis hidayah terdahulu dan membedakan manusia dari binatang, untuk melengkapi kebutuhan hidupnya. Akal berfungsi untuk membimbing dan mengendalikan fungsi instink dan panca inderanya. (4) Hidayah agama; untuk melengkapi ketiga hidayah terdahulu dalam mengarungi kehidupan di dunia. Manusia memerlukan bimbingan agama, karena akal dapat diperbudak oleh naluri pembawaan dan jiwanya dapat dikuasai hawa nafsu yang mengantarkan pada dosa dan permusuhan.

Jalan Allah: s}ira>t mustaqi>m mengandung beberapa hal: lurus, yakni dekat, karena garis lurus adalah garis terpendek yang menghubungkan dua titik; mengantarkan ke tujuan; lapang, yakni dapat menampung sejumlah orang yang melaluinya; dipastikan mengantarkan penempuhnya sampai tujuan. Jalan lurus itu ialah Islam. Dan sumber petunjuk dalam Islam tidak lain adalah Al-Qur’an, dan semuanya dapat diambil contohnya dari perbuatan Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabat beliau yang utama.

Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah SAW pernah membuat sebuah garis untuk kami, lalu beliau bersabda, “Ini adalah jalan Allah.” Kemudian beliau membuat lagi beberapa garis di sebelah kanan dan kiri garis itu seraya bersabda, “Ini beberapa jalan; pada tiap-tiap jalan ini terdapat setan yang menyeru ke jalan itu.” Kemudian beliau membaca firman Allah: Wa anna hadza shirathi mustaqiman fattabi’uhu …. Artinya: Inilah jalan-Ku yang lurus. Ikutilah! Janganlah ikuti bermacam-macam jalan yang akan mencerai-beraikan dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kamu, supaya kamu bertakwa (Q 6:153) (HR Ahmad).

… Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki, ke jalan yang lurus (QS Al-Baqarah/2:213).

Sungguh Allah Tuhanku dan Tuhan kamu; sembahlah Ia, inilah jalan yang lurus (QS Ali Imra>n/3:51).

… Barang siapa berpegang teguh kepada Allah maka ia diberi petunjuk ke jalan yang lurus (QS Ali Imra>n/3:101).

Bahwa Ibrahim sungguh suatu teladan orang taat kepada Allah dan murni dalam iman, dan dia tidak termasuk golongan orang musyrik. Ia bersyukur atas segala karunia-Nya, dipilih-Nya dan diberi-Nya petunjuk ke jalan yang lurus. Dan Kami berikan kebaikan kepadanya di dunia, dan di akhirat ia termasuk orang yang saleh (QS An-Nahl/16:120-122).

Sira>t}allaz|I>na an’amta ‘alaihim gairil-magd}u>bi ‘alaihim waladda>lli>n

Jalan mereka yang telah Kauberi segala kenikmatan, bukan jalan mereka yang mendapat murka, dan bukan mereka yang sesat jalan

Manusia ada yang termasuk golongan yang dirahmati Allah dan ada yang dimurkai dan tersesat. Orang yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya adalah orang yang diberi nikmat oleh Allah SWT. Dialah yang menyucikan jiwanya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah adalah para Nabi, pencinta kebenaran, syuhada>’ dan orang-orang saleh.

Barang siapa taat kepada Allah dan kepada Rasul, akan bersama-sama dengan mereka yang oleh Allah diberi nikmat, – para nabi, orang-orang yang tulus hati, para saksi kebenaran dan orang-orang yang saleh. Alangkah indahnya persahabatan ini. Yang demikian itulah karunia dari Allah dan sudah cukup Allah mengetahui (QS An-Nisa>’ 4:69-70).

Orang yang mengetahui kebenaran tetapi mengikuti hawa nafsunya adalah orang yang dimurkai Allah, sedangkan orang yang tidak mengetahui kebenaran adalah orang yang sesat.

Tatkala ia (Ibrahim) melihat bulan timbul, ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan terbenam, ia berkata, “Jika Tuhanku tidak memberi petunjuk, pastilah aku jadi orang yang sesat.” (QS Al-An’a>m/6:77).

Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu berlindung [untuk persahabatan] kepada suatu golongan yang sudah dimurkai Allah. Mereka sudah putus asa dari hari akhirat, seperti orang-orang kafir dahulu, yang sudah putus asa mengenai mereka yang sudah [dikuburkan] dalam kubur (Q.S. al-Mumtah}anah [60]:13).

Adi bin Hatim meriwayatkan, bahwa Nabi SAW bersabda, “Yang dimaksud orang-orang yang dimurkai adalah Yahudi, sedangkan orang-orang yang tersesat adalah Nasrani.” (HR Ahmad).

V. Kesimpulan

Al-Fatihah adalah esensi Al-Qur’an. Al-Fatihah mengandung pengenalan tentang Tuhan yang berhak diibadahi, Yang Maha Suci lagi Maha Luhur dengan nama-nama-Nya: Alla>h, Rabb, Al-Rahma>n, Al-Rahi>m.

Surah ini dibangun di atas landasan ilahiyah, yakni ketuhanan Allah SWT sebagai Zat yang disembah; landasan rububiyah, yakni ketuhanan Allah sebagai Zat yang menciptakan, menguasai dan mengatur alam semesta; landasan rahmah, yakni rahmat dan kasih sayang, tempat memanjatkan segala permohonan. Al-Fa>tihah sebagai pembuka Al-Qur’an, niscaya menjadi pembuka pintu hati untuk masuknya petunjuk-petunjuk Allah yang terbentang dalam Al-Qur’an ke dalam kalbu. Mengamalkan Al-Fatihah niscaya melapangkan hati dan memudahkan jalan untuk mengamalkan Al-Qur’an. Insya>-Alla>h.

Advertisements

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s