Dari Hawa Ke Hawa

Mei 20, 2008

poligami- Hak-hak isteri

Filed under: poligami — intanrohaida @ 1:33 pm

Poligami merupakan syariat Islam yang akan berlaku sepanjang zaman hingga hari akhir. Poligami diperbolehkan dengan syarat sang suami memiliki kemampuan untuk adil di antara para isteri, sebagaimana pada ayat 3 surah annisa’ yang artinya:


“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengahwininya), maka kahwinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kahwinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”


Berlaku adil dalam bermuamalah dengan isteri-isterinya, iaitu dengan memberikan kepada masing-masing isteri hak-haknya. Adil disini lawan dari zalim, iaitu memberikan kepada seseorang kekurangan hak yang dipunyainya dan mengambil dari yang lain kelebihan hak yang dimilikinya. Jadi adil dapat diartikan persamaan. Berdasarkan hal ini maka adil antara para isteri adalah menyamakan hak yang ada pada para isteri dalam perkara-perkara yang memungkinkan untuk disamakan di dalamnya.

Adil adalah memberikan sesuatu kepada seseorang sesuai dengan haknya.

Apa saja hak seorang isteri di dalam poligami?


Di antara hak setiap isteri dalam poligami adalah sebagai berikut:

A. Memiliki rumah sendiri


Setiap isteri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 33, yang artinya, “Menetaplah kalian (wahai isteri-isteri Nabi) di rumah-rumah kalian.” Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla menyebutkan rumah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam bentuk jamak, sehingga dapat dipahami bahwa rumah beliau tidak hanya satu.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menceritakan bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sakit menjelang wafatnya, baginda Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya, “Dimana aku besok? Di rumah siapa?’ Baginda Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menginginkan di tempat Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, oleh karena itu isteri-isteri beliau mengizinkan beliau untuk dirawat di mana saja baginda menginginkannya, maka baginda dirawat di rumah Aisyah sampai baginda wafat di sisi Aisyah. Baginda Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat pada hari giliran Aisyah. Allah mencabut ruh baginda dalam keadaan kepala baginda bersandar di dada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan dalam kitab Al Mughni bahwasanya tidak pantas seorang suami mengumpulkan dua orang isteri dalam satu rumah tanpa redha dari keduanya. Hal ini dikhuatiri dapat menjadikan penyebab kecemburuan dan permusuhan di antara keduanya.

Tidak boleh mengumpulkan para isteri dalam satu rumah kecuali dengan redha mereka juga merupakan pendapat dari Imam Qurthubi di dalam tafsirnya dan Imam Nawawi dalam Al Majmu Syarh Muhadzdzab.


B. Menyamakan para isteri dalam masalah giliran


Setiap isteri harus mendapat hak giliran yang sama. Imam Muslim meriwayatkan hadis yang artinya; Anas bin Malik menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki 9 isteri. Kebiasaan baginda Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bila menggilir isteri-isterinya, baginda mengunjungi semua isterinya dan baru berhenti (berakhir) di rumah isteri yang mendapat giliran saat itu.

Ketika dalam berpergian, jika seorang suami akan mengajak salah seorang isterinya, maka dilakukan undian untuk menentukan siapa yang akan ikut serta dalam perjalanan. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menyatakan bahwa apabila Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hendak bermusafir, baginda mengundi di antara para isterinya, siapa yang akan baginda Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sertakan dalam musafirnya. Baginda Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa menggilir setiap isterinya pada hari dan malamnya, kecuali Saudah bintu Zam’ah karena hak gilirannya telah diberikan kepada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwa seorang suami diperbolehkan untuk masuk ke rumah semua isterinya pada hari giliran salah seorang dari mereka, namun suami tidak boleh menggauli isteri yang bukan waktu gilirannya.
Seorang isteri yang sedang sakit maupun haid tetap mendapat hak giliran sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menyatakan bahwa jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ingin bermesraan dengan istrinya namun saat itu isteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang haid, beliau memerintahkan untuk menutupi bagian sekitar kemaluannya.

Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa’dy rahimahullah, ulama besar dari Saudi Arabia, pernah ditanya apakah seorang isteri yang haid atau nifas berhak mendapat pembahagian giliran atau tidak. Beliau rahimahullah menyatakan bahwa pendapat yang benar adalah bagi isteri yang haid berhak mendapat giliran.


C. Tidak boleh keluar dari rumah isteri yang mendapat giliran menuju rumah yang lain .


Seorang suami tidak boleh keluar untuk menuju rumah isteri yang lain yang bukan gilirannya pada malam hari kecuali keadaan darurat. Larangan ini disimpulkan dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di rumah Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, tidak lama setelah baginda berbaring, baginda bangkit dan keluar rumah menuju kuburan Baqi sebagaimana diperintahkan oleh Jibril alaihi wa sallam. Aisyah Radhiyallahu ‘Anha kemudian mengikuti baginda karena menduga bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan pergi ke rumah isteri yang lain. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pulang dan mendapatkan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dalam keadaan termengah-mengah, baginda Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, “Apakah Engkau menyangka Allah dan Rasul-Nya akan berbuat tidak adil kepadamu?”

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah menyatakan tidak dibolehkannya masuk rumah istri yang lain di malam hari kecuali darurat, misalnya si isteri sedang sakit. Jika suami menginap di rumah isteri yang bukan gilirannya tersebut, maka dia harus mengganti hak isteri yang gilirannya diambil malam itu. Apabila tidak menginap, maka tidak perlu menggantinya.


D. Batasan Malam Pertama Setelah Pernikahan

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu bahwa termasuk sunnah bila seseorang menikah dengan gadis, suami menginap selama tujuh hari, jika menikah dengan janda, ia menginap selama tiga hari. Setelah itu barulah ia menggilir isteri-isteri yang lain.
Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha mengkhabarkan bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahinya, beliau menginap bersamanya selama tiga hari dan beliau bersabda kepada Ummu Salamah, “Hal ini aku lakukan bukan sebagai penghinaan kepada keluargamu. Bila memang engkau mau, aku akan menginap bersamamu selama tujuh hari, namun aku pun akan menggilir isteri-isteriku yang lain selama tujuh hari.”

E. Wajib menyamakan nafkah


Setiap isteri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri-sendiri, hal ini berkonsekuensi bahwa mereka makan sendiri-sendiri, namun bila isteri-isteri tersebut ingin berkumpul untuk makan bersama dengan keredhaan mereka maka tidak apa-apa.

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa bersikap adil dalam nafkah dan pakaian menurut pendapat yang kuat, merupakan suatu kewajiban bagi seorang suami.
Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu mengabarkan bahwa Ummu Sulaim mengutusnya menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan membawa kurma sebagai hadiah untuk baginda Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian kurma tersebut untuk dibagi-bagikan kepada isteri-isteri baginda segenggam-segenggam.

Bahkan ada keterangan yang dibawakan oleh Jarir bahwa ada seseorang yang berpoligami menyamakan nafkah untuk isteri-isterinya sampai-sampai makanan atau gandum yang tidak bisa ditakar / ditimbang karena terlalu sedikit, beliau tetap membaginya tangan pertangan. Namun perlu diambil kira pembahagian nafkah mengikut keperluan tanggungan suami dalam rumahnya.

F. Undian ketika safar

Bila seorang suami hendak melakukan musafir dan tidak membawa semua istrinya, maka ia harus mengundi untuk menentukan siapa yang akan menyertainya dalam safar tersebut.

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan bahwa kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bila hendak musafir, baginda mengundi di antara para isterinya, siapa yang akan diajak dalam musafir tersebut.
Imam Ibnu Qudamah menyatakan bahwa seorang yang bermusafir dan membawa semua istrinya atau menginggalkan semua isterinya, maka tidak memerlukan undian.
Jika suami membawa lebih dari satu isterinya, maka ia harus menyamakan giliran sebagaimana ia menyamakan di antara mereka ketika tidak dalam keadaan bermusafir.

G. Tidak wajib menyamakan cinta dan jima’ di antara para istri

Seorang suami tidak dibebankan kewajiban untuk menyamakan cinta dan jima’ di antara para isterinya. Yang wajib bagi dia memberikan giliran kepada isteri-isterinya secara adil.

Ayat “Dan kamu sekali-kali tiadak dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin demikian” ditafsirkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa manusia tidak akan sanggup bersikap adil di antara istri-istri dari seluruh segi. Sekalipun pembagian malam demi malam dapat terjadi, akan tetapi tetap saja ada perbedaan dalam rasa cinta, syahwat, dan jima’.
Ayat ini turun berkenaan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat mencintainya melebihi isteri-isteri yang lain. Baginda Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ya Allah inilah pembagianku yang aku mampu, maka janganlah engkau cela aku pada apa yang Engkau miliki dan tidak aku miliki, yaitu hati.”

Muhammad bin Sirrin pernah menanyakan ayat tersebut kepada Ubaidah, dan dijawab bahwa maksud surat An Nisaa’ ayat 129 tersebut dalam masalah cinta dan bersetubuh. Abu Bakar bin Arabiy menyatakan bahwa adil dalam masalah cinta diluar kesanggupan seseorang. Cinta merupakan anugerah dari Allah dan berada dalam tangan-Nya, begitu juga dengan bersetubuh, terkadang berghairah dengan istri yang satu namun terkadang tidak. Hal ini diperbolehkan asal bukan disengaja, sebab berada diluar kemampuan seseorang.

Ibnul Qoyyim rahimahullah menyatakan bahwa tidak wajib bagi suami untuk menyamakan cinta di antara isteri-isterinya, karena cinta merupakan perkara yang tidak dapat dikuasai. Aisyah Radhiyallahu ‘Anha merupakan isteri yang paling dicintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dari sini dapat diambil pemahaman bahwa suami tidak wajib menyamakan para isteri dalam masalah jima’ karena jima’ terjadi karena adanya cinta dan kecondongan. Dan perkara cinta berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Zat yang membolak-balikkan hati. Jika seorang suami meninggalkan jima’ karena tidak adanya pendorong ke arah sana, maka suami tersebut dimaafkan. Menurut Imam Ibnu Qudamah rahimahullah, bila dimungkinkan untuk menyamakan dalam masalah jima, maka hal tersebut lebih baik, utama, dan lebih mendekati sikap adil.
Penulis Fiqh Sunnah menyarankan; meskipun demikian, hendaknya seoarang suami memenuhi kebutuhan jima isterinya sesuai kadar kemampuannya.
Imam al Jashshaash rahimahullah dalam Ahkam Al Qur’an menyatakan bahwa, “Dijadikan sebagian hak isteri adalah menyembunyikan perasaan lebih mencintai salah satu isteri terhadap isteri yang lain.”


Saranan

Seorang suami yang hendak melakukan poligami hendaknya melihat kemampuan pada dirinya sendiri, jangan sampai pahala yang dinginkan ketika melakukan poligami malah berbalik dengan dosa dan kerugian. Dalam sebuah hadis disebutkan (yang artinya) “Barangsiapa yang mempunyai dua isteri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari Kiamat dia akan datang dalam keadaan salah satu bahunya senget sebelah.”

About these ads

6 Komen »

  1. Assalamu’alaikum.

    Saya ingin memohon pendapat mengenai poligami. Saya seorang janda beranak dua, bakal mendirikan rumah tangga dengan seorang lelaki, suami orang. Menyedari keadaan sekeliling yang tidak selamat bagi saya, saya membuat keputusan untuk berkahwin. Itupun setelah beberapa bulan berkenalan dan keserasian dicapai antara kami. Persoalan saya adalah, perkahwinan kami akan menjadi rahsia bagi keluarga bakal suami saya, terutama isterinya. Saya sangat maklum bahawa suami yang berpoligami wajib berlaku adil. Tetapi, saya telah bersetuju dan merelakan giliran yang tidak adil untuk saya, demi menutup rahsia ini. Saya percaya bahawa bahagia itu adalah apa yang saya tentukan sendiri.
    Wassalam.

    Komen oleh Nooraini — November 17, 2008 @ 10:01 am | Balas

    • Kenapa perlu rahsia. .kalo betol bakal suami awk seorg yg islam sejati dia x akn buat awk mcm tu..adakah betol sbb faktor keselamatan yg mmbuatkn awk sanggop menerima dia sbg suami..jgn berlembut sgt takut di akhirnya awk sndiri yg mkn hati..org ambil kesempatan ke ats diri awk..kalo nak bg kata dua pd bkl suami..kalo nak kahwini awk buat dgn betol..bgtau pd kluarganya dan isterinya. .jgn buat awk sprt pompuan simpanan..maaf kalo kata sy ni agk kasar..tp itu smua utk kebaikan awk juga

      Komen oleh hamballah — Ogos 13, 2014 @ 11:16 am | Balas

  2. Saya tak menentang hukum Allah.. walau bagaimanapun kalo nak bernikah..biar lah isteri beliau mengetahui walau pun ia adalah pedih di telan. Timbang2 dan pikir2 kan apa akn jd pada generasi yg akan datang? tak kenal darah daging sendiri? boleh mengakibat kahwin adik beradik sndiri walau berlainan mak tp SATU bapak…Amat tragis nanti. Kalo dah berani wat..berani tanggunglah..awak dah amik hak org nti hak awk pulak org amik cane?
    Pikir2 lah masak2 sebelum terikat? masih ada luang lg tuh.

    Komen oleh Susilo Abraham — November 30, 2008 @ 5:40 pm | Balas

  3. Saya sendiri berpoligami, kalau awak sedia menunggu cabaran dan sanggup berkorban teruskanlah bernikah tanpa pengetahuan isteri pertama. tapi kalau rasanya tak mampu elok tak payah. banyak cabaran poligami khususnya sebab isteri pertama tak tahu, yang tahu pun macam2 cabaran jugak.

    Komen oleh hanisumayyah — Disember 4, 2008 @ 7:49 am | Balas

  4. Terima kasih di atas perkongsian ilmu di atas..sangat2 membantu saya sebentar tadi..Alhamdulillah…

    Komen oleh Halimatul Saadiah — Disember 28, 2012 @ 5:08 pm | Balas

  5. Assalamualaikum…

    Saya cuma ingin suarakan sedih di hati…

    Sememangnya saya isteri kedua…dan saya bukan berkahwin secara sembunyi…Semua berlaku dengan rela dan keizinan semua pihak…isteri pertama, keluarga saya dan keluarga mertua (suami)…cuma apa yg saya sedih, saya minta hak sebagai ibu kepada anak saya, supaya isteri pertama tidak perlu meminta2 untuk menjaga anak saya…dan suami juga tidak perlu memaksa saya menghantar anak saya pada isteri pertamanya utk menjaga anak saya…

    Saya tak nafikan isteri pertama mmg baik,tetapi, tidak perlulah sehingga nak jaga anak saya…saya tak mahu menyusahkan madu sendiri dan nak elakkan kata2 dan kemungkinan yg tidak baik kemudian hari…

    Saya mengharapkan pendapat pembaca dan jika ada ayat2 yg boleh menjadi panduan untuk tenangkan hati saya…

    Terima kasih…

    Komen oleh Norlaila — Mac 14, 2013 @ 11:30 am | Balas


Suapan RSS untuk komen-komen bagi kiriman ini. TrackBack URI

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 226 other followers

%d bloggers like this: